Aksi Solidaritas untuk Yuyun. (Rengga Satria/Celahkota)
Topik

Nyala untuk Yuyun, Senja Kala Pendidikan Indonesia

Awal April yang tidak pas untuk Yuyun. Temuan mayat di jurang pada hutan karet bukan sebuah ‘keluarbiasaan’ kala itu. Namun pada Awal Mei, sosok siswi SMP itu ditahbiskan sebagai martir antikekerasan seksual terhadap anak dan wanita.

CELAHKOTA.COM – Wanita berusia 14 tahun itu ditemukan dengan tulang pinggang patah. Posisinya di bawah jurang di tengah semak belukar pada areal hutan karet, Rajang Belong, Bengkulu. Belakangan, wanita yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan itu diketahui bernama Yuyun, seorang siswi SMP kelas II di SMPN 5 Satu Atap Padang Utak Tanding (PUT).

Keluarga Yuyun merasa kehilangan pada Sabtu 2 April 2016, tiga hari sebelum akhirnya harus menerima kenyataan bahwa gadis yang semestinya menikmati masa remajanya itu tewas mengenaskan di hutan karet.

Tak heran jika media tidak mengangkat cerita Yuyun lebih dalam ketika pertama kali jasadnya ditemukan. Saat itu, awal bulan April, bukan momen yang tepat untuk mengangkat berita temuan mayat. Kita juga harus menyadari betapa media menjadi begitu gamblang memperlihatkan betapa sebuah nyawa juga harus ada kaitanya dengan sebuah peristiwa yang tetap, besar, dan menggemparkan.

Pada akhir April hingga awal Mei, baru kemudian kasus itu diangkat ke permukaan. Sosok Yuyun menjadi begitu ‘menjual’ ketika disandingkan dengan temuan mayat di kamar mandi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat mahasiswa-mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di depan kampus mereka. Kasus Yuyun juga lebih menarik ketimbang berita mahasiswa UMSU yang menggorok leher dosennya karena kesal kerap diancam diberikan nilai jelek.

Mereka yang Menyala Bersama Yuyun

Untuk kasus Yuyun, wartawan tertentu –khususnya media lokal– barang tentu sudah tertarik dengan temuan mayat ini, tapi apa daya, tuntutan profesi bagi mereka yang bukan sekadar pemberi warta tapi juga sebagai pendulang pundi-pundi uang di media tempat mereka bekerja, mengharuskan mereka bertugas apa adanya.

Baru pada bulan Mei, kasus pembunuhan Yuyun mulai mendapatkan ‘tempat’ di teras-teras berita online maupun cetak. Indonesia memiliki satu hari besar yakni Hari Pendidikan Nasional. Media yang merupakan agen pengingat sebuah peristiwa sudah pasti sibuk menyiapkan topik penyajian yang ‘seksi’.

Bisa ditebak, sejumlah peristiwa kriminal mendominasi pemberitaan selama satu minggu usai Hari Pendidikan Nasional. Hardiknas dirias dengan isu keamanan kampus yang seadanya, sistem pendidikan yang penuh intimidasi, sampai polah tingkah pemuda yang kurang berpendidikan. Tiga hal itu berujung satu, hilangnya nyawa seseorang.

Kronologi Sebuah Kebiadaban

Yuyun diperkosa 14 pemuda di hutan Karet. Sebuah ‘kebetulan’ yang memilukan membawa Yuyun pada malapetaka. Koordinator Divisi Pelayanan Cahaya Perempuan Women’s Crisis Center (WCC) Bengkulu, Desi Wahyuni, menceritakan kebiadaban yang dialami Yuyun sebelum ajal menjemput.

Berdasarkan investigasi yang dilakukan Desi dan kawan-kawan Tim Cahaya Perempuan, peristiwa itu bermula pada Sabtu 2 April 2016, saat Yuyun pulang sekolah sekitar pukul 13.30 WIB, dengan membawa alas meja dan bendera merah putih untuk dicuci di rumahnya sebagai persiapan upacara bendera pada hari Senin, Yuyun dicegat oleh 14 pemuda yang mabuk usai pesta tuak.

Selanjutnya, Yuyun dibekap dan diseret ke tengah hutan karet, ia dianiaya dan diperkosa secara bergiliran oleh 14 pemuda mabuk, hingga tewas.

Sabtu malam, keluarga Yuyun resah anak gadisnya tak kunjung tiba di rumah. Pada Minggu 3 April 2016, mencari keberadaan Yuyun hingga malam hari. Pencarian yang nihil membuat keluarga Yuyun berserah. Mereka pun menggelar pengajian di rumahnya.

Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan Yuyun Harus Dihukum Berat!

Pada Senin 4 April 2016 sekitar pukul 13.00 WIB mayat Yuyun ditemukan oleh Da (45) dalam kondisi mengenaskan: Tertutup daun pakis, Yuyun ditemukan dalam keadaan setengah bugil dengan tangan menyilang pada celah paha yang terikat tali.

Luka penganiayaan dan pemerkosaan juga ‘tertinggal’ di tubuh korban. Wajahnya penuh lebam dan lubang kemaluan yang hancur –mohon maaf– yang menyebabkannya menyatu dengan lubang dubur.

Jumat 8 April 2016, kepolisian menggelar operasi penangkapan dan berhasil membekuk tiga tersangka, yakni Dedi Indra Muda (19), Tomi Wijaya (19), dan Dahlan (17).

Pada Sabtu 9 April 2016, sekira pukul 03.01 WIB, kembali diringkus sembilan tersangka lainnya yakni Suket (19), Bobi (20), Faisal (19), Zainal (23), Febriansyah Saputra (18), Sulaimansyah (18), AL (17), SU (16), dan EK (16).

Negara Absen

Kasus Yuyun dijadikan oleh sekelompok orang yang bersimpati kepadanya sebagai momen pengingat masyarakat, bahwa anak dan wanita masih menjadi pihak yang rentan terhadap kekerasan seksual. Sementara pelaku pemerkosa Yuyun yang masih terdaftar sebagai pelajar –meski secara sadar mereka tidak lagi sekolah– menjadi wajah kegagalan negara absen untuk ‘memikat’ warganya untuk mengenyam bangku sekolahan.

Tak selesai sampai di situ, negara juga absen memberikan ‘keamanan’ dan ‘kenyamanan’ bagi anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Maraknya kekerasan di dalam sekolah menjadi pendidikan moral yang tidak bermanfaat.

Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti menilai kasus Yuyun dipicu oleh tingkat kemiskinan dan keterbelakangan sejumlah daerah yang dipimpinnya. Setengah mempromosikan program kerjanya, Ridwan mengungkapkan, akan memprioritaskan program penanggulangan kemiskinan terutama di 670 desa tertinggal pada daerah yang ia pimpin.

Tapi, apakah kemiskinan adalah kambinghitam yang tepat atas kekerasan seksual yang dialami Yuyun?

Kronologi Pemerkosaan dan Pembunuhan Yuyun

Di Jakarta, kasus kekerasan pelajar (Bullying) juga terjadi di SMA 3 Jakarta yang tidak dapat dikatakan sebagai ‘sekolahannya orang miskin’. Potret kekerasan di SMA 3 bisa mementahkan pernyataan Gubernur Bengkulu.

Faktor ekonomi memang terbukti sebagai penyumbang terbesar dalam tindak kriminal, apakah itu pula yang menjadi motif kekerasan yang terjadi di SMA 3 Jakarta atau yang menimpa Yuyun di hutan karet: Bagaimana para pemerkosa Yuyun ‘yang disebut miskin’ mengenal Sadomasochist sex?

Internet menjadi salah satu sumber ‘kebiadaban’ yang terjadi kala itu. Seperti apa yang diungkap Tempo via jurnalis Phesi Ester Julikawati yang menyebutkan tempat berkumpulnya para tersangka merupakan wilayah salah satu wilayah yang memiliki sinyal internet.

Mengutip Tempo, seorang pedagang pulsa bernama Widyastuti mengaku heran 14 pemuda yang bukan berasal dari daerah Kasie Kasubun, Rejang Belong, Bengkulu, kerap membeli pulsa di lapaknya.

“Tempat itu sinyalnya paling kuat. Para pemerkosa itu sering berkumpul di tempat itu,” ujarnya.

Meski jalan umum, daerah itu sepi, karena kiri dan kanannya perkebunan karet dan hutan. Menurut Widyastuti, warga sering curiga bahwa lokasi tempat pemuda berkumpul itu dijadikan tempat mengakses video porno lewat Internet.

“Mereka sering membeli kartu perdana dan isi pulsa di warung saya. Saya sempat curiga juga, mengapa mereka sering sekali beli pulsa di sini, karena kan mereka tinggal di desa sebelah,” tuturnya.

Selain internet, minuman keras juga menjadi kambinghitam dari kematian Yuyun. Undang-undang telah mengatur tentang kekerasan anak dan internet, namun sampai saat ini, regulasi mengenai minuman keras masih belum jelas.

Kronologi Pemerkosaan dan Pembunuhan Yuyun

Sekelumit cerita Yuyun tentu bukan potret tepat untuk menampilkan bagaimana minuma keras menjadi biang keladi, pendidikan dari lingkungan sekitar pun turut andil: Bagaimana anak di bawah umur bisa ‘dikenalkan’ dengan tuak, minuman memabukkan sekaligus yang memiliki nilai kearifan lokal itu.

Pemberdayaan manusia yang kurang maksimal menjadi hal yang patut disoroti. Pembangunan sebuah daerah juga penting dibarengi dengan pembangunan mental masyarakat.

Dan pada Hari Pendidikan Nasional, bukan hanya Yuyun yang ditelanjangi melainkan seluruh negeri. Yuyun menjadi cermin pendidikan Indonesia yang masih tertinggal, aturan yang diberlakukan hanya asal jalan, serta tanggung jawab masyarakat yang lemah.

Ketelanjangan Indonesia diperparah pula oleh pernyataan salah satu menterinya. Pada Selasa 3 Mei 2015, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengaku tidak mengetahui kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang dialami Yuyun.

Dengan polos Puan jujur mengatakan bahwa ia terlalu sibuk di kantornya, sehingga tidak bisa mengetahui segala hal tentang Indonesia. Termasuk kasus yang menggemparkan Indonesia yang sudah menjadi topik bahasan di sejumlah media massa. Itulah menteri kita yang kerja, kerja, kerja.

Pertanyaannya: Kerja apa?

Nyala untuk Yuyun, Senja Kala Pendidikan Indonesia
Komentar gratis klik di sini

Tinggalkan pesan

Pilihan

Ke atas