belokirifest-belok-2
Politik

Ketika Sintong Lebih Kecil dari Sarwo Edhie

“Sarwo Edhie itu komandan RPKAD. Angka itu didapat dari laporan anak buahnya, dan luas wilayahnya dapat dilihat. Nah laporan yang diterima adalah 3 juta orang. Sintong, saat itu hanya komandan pleton, dan jumlah anak buahnya terbatas.”

Belokkirifest.org

CELAHKOTA.COM – Mencengangkan, demikian uraian dari Letjen (Purnawirawan) Sintong Pandjaitan yang menyebut korban pembasmian Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak sampai ribuan orang. Hal itu ia sampaikan pada Simposium Nasional “Membedah Tragedi ’65” di hadapan para akademisi, kerabat korban, dan sejumlah pihak yang terkait dalam peristiwa tersebut.

Saat operasi militer digelar, Sintong adalah Komandan Pasukan RPKAD (kini Komando Pasukan Khusus) yang bertugas mengejar orang-orang yang dituduh terlibat PKI untuk daerah Jawa tengah. Ia membantah jumlah korban operasi militer mencapai ribuan orang, bahkan ia mengklaim, dalam operasi di Jawa Tengah hanya ada satu nyawa yang melayang.

Oleh sebab itu, Sintong mempertanyakan sejumlah pihak yang menyebut korban pembasmian PKI hingga angka 3 juta jiwa. “Ini pembohongan karena itu berhubungan dengan harga diri kami sebagai RPKAD,” kata Sintong saat menjadi pembicara kunci dalam Simposium Nasional Tragedi 1965 di Jakarta, Senin (18/4).

Penulis Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah wawancara mengungkapkan, ada sekitar 5.000 orang yang menjadi korban ‘keberingasan’ Angkatan Darat di Kabupaten Blora. “Sekitar 10 persen dari penduduk yang dibunuh. Itu baru satu kabupaten,” terang Pram, panggilan Pramoedya.

Diakui Pram, jumlah tersebut didapatkan dari Yayasan Penelitian Korban 65-66. Pram sendiri merupakan salah satu seniman yang kena imbas dalam pembasmian PKI dan Soekarnoisme yang merupakan buntut dari tragedi ’65. Hasilnya, Pram yang sempat terlibat dalam organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang merupakan organisasi sayap PKI, harus menghabiskan sebagian masa hidupnya di pembuangan di Pulau Buru.

Lewat wawancara tersebut, Pram mengakui bahwa masih ada simpangsiur tentang jumlah korban pembasmian PKI dan Soekarnoisme. “Menurut pers barat, ada 500 ribu sampai 1 juta orang, menurut Domo (Sudomo) 2 juta orang, menurut Sarwo Edhie yaitu komandan yang melaksanakan program pembunuhan atas perintah Harto (Soeharto) 3 juta,”

“Dia (Sarwo Edhie) ngomong begitu dengan bangganya,” ungkap Pram.

Sintong atau Sarwo Edhie?

Perbedaan jumlah korban pembasmian PKI dan Soekarnoisme yang merupakan imbas dari Tragedi ’65 antara Sintong dan komandannya kala itu, Sarwo Edhie memang menjadi perbincangan hangat di Simposium Nasional kemarin.

Namun, Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam memiliki jalan tengah untuk menyikapi perbedaan tersebut. Ia mengatakan, jumlah korban yang disebut Sintong dan Sarwo Edhie dapat disikapi dengan menilik posisi keduanya saat operasi militer diberlakukan.

“Pertama, Sarwo Edhie itu komandan RPKAD. Angka itu didapat dari laporan anak buahnya, dan luas wilayahnya dapat dilihat. Nah laporan yang diterima adalah 3 juta orang. Sintong, saat itu hanya komandan pleton, dan jumlah anak buahnya terbatas. Saya tidak menyalahkan dia, tapi itu kan pengalaman pribadi dia,” kata Asvi.

Selain menyikapi posisi dua orang tersebut, Asvi juga mengingatkan masyarakat untuk menilik hasil laporan dari akademisi seperti data yang dipaparkan oleh pakar di Bidang Sosial Politik Iwan Gardono Sujatmiko misalnya.

Dalam pencariannya, Iwan mengumpulkan sejumlah artikel, buku dan jurnal mengenai peristiwa ’65 dan serangkaian peristiwa pembasmian setelahnya. “Iwan Gardono Sujatmiko, dia mengumpulkan semua buku, artikel dan dijumlahkan. Angka yang didapatkan 450 ribu. Angka yang moderat, tidak terlampau rendah dan tidak terlampau tinggi,” tegasnya.

Ketika Sintong Lebih Kecil dari Sarwo Edhie
1 Komentar

1 Comment

  1. Bisma Rizal

    28/04/2016 at 01:23

    Hebat yah sebuah peristiwa yg katanya dahsyat dinilai dengan kata Yang Lebih Moderat…

Tinggalkan pesan

Pilihan

Ke atas