dilarang-belok-kiri
Ragam

Dilarang Belok “Kiri”

 “Ketahuilah bahwa rakyat kita, yang beribu tahun diajar jongkok

yang belum pernah mempunyai hak sebagai manusia itu

tak mudah didik.”

-Tan Malaka-

CELAHKOTA.COM – Kurang lebih dalam dua bulan ini ada tiga acara yang berbau “kiri” batal diselenggarakan akibat  adanya penolakan dari berbagai pihak.  Pertama adalah Festival Belok Kiri yang gagal terlaksana pada Sabtu, 27 Februari 2016 lalu, kemudian ada pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Mata Beta” karya sutradara nyentrik Rahung Nasution dan yang paling baru adalah perhelatan Monolog Tan Malaka yang rencananya akan digelar Rabu, 23 Maret 2016 kemarin di Pusat Kebudayaan Prancis atau IFI Bandung.

Ketiga acara tersebut batal digelar dengan alasan yang sama, yakni adanya ancaman dari pihak luar yang mengatasnamakan organisasi masyarakat (Ormas) tertentu. Sedangkan alasan Ormas-Ormas itu menentang acara-acara tersebut adalah karena ketiga acara itu dianggap penuh muatan Komunisme atau berbau Partai Komunis Indonesia (PKI).

Meski arus informasi saat ini telah melaju pesat dan informasi tentang apapun bisa digapai dengan mudah lewat jaringan internet, dibantu dengan beragam situs penyedia jasa pencarian, namun nampaknya kata Komunis masih terdengar tabu atau bahkan haram di negeri ini.

Pada umumnya masyarakat kita memang mengenal Komunisme lewat PKI dan tragedi 30 September 1965 yang membawa sejarah kelam tersendiri bagi rakyat Indonesia. Berdasarkan sejarah (versi Orde Baru) PKI dan Komunisme memang diibaratkan sebagai sosok yang mengerikan: anti Tuhan, pembantaian dan hal-hal lain yang membawa trauma tersendiri.

Padahal telah banyak buku, film dokumenter atau bahkan kesaksian para tokoh yang coba meluruskan sejarah kelam versi Orde Baru itu tentang tragedi 30 September 1965, namun nampaknya sulit merubah stigma PKI  atau bahkan Komunisme di negeri ini.

Pemerintah bahkan telah menegaskan pada peringatan 50 tahun pasca tragedi berdarah, 30 September 1965 tahun lalu untuk tidak akan meminta maaf kepada korban pembantaian anti PKI atau Komunis di Indonesia. Hal itu disampaikan secara langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan yang sekaligus mengugurkan harapan rehabilitasi nama baik para penyintas tragedi 65 yang telah berpuluh-puluh tahun hidup dalam stigma.
Islam, PKI dan Komunisme

Kita-yang-Masih-Terjangkit-Paranoid-Terhadap-Kiri

Sejak siang hingga  malam pusat kebudayaan Prancis atau IFI, Bandung telah ramai dipadati oleh sekelompok orang. Mereka yang sebagian berasal dari Ormas Islam seperti Gerakan Reformis Islam (Garis), FPI, dan FUI mencekal penyelenggaraan pentas Monolog Tan Malaka yang bertajuk “Saya Rusa Berbulu Merah” yang rencananya akan digelar pada malam itu.

Tak hanya itu, ancaman juga ditujukan kepada panitia. Bahkan Joind Bayuwinanda, aktor pemeran Tan Malaka dalam pementasan tersebut sempat mendengar adanya ancaman penembakan kepada dirinya jika kegiatan itu tetap dilakukan.

Penolakan, pencekalan, hingga ancaman terhadap kegiatan yang kekiri-kirian  memang telah lumrah terjadi di negeri ini. Bagi mereka – Ormas-Ormas yang disebutkan di atas – pergelaran Monolog Tan Malaka dengan judul “Saya Rusa Berbulu Merah” bisa memicu tumbuhnya kembali ideologi Komunis yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ironis memang jika menilik latar belakang Tan Malaka yang mempunyai nama asli Ibrahim dan berpredikat sebagai Hafiz Al-Quran – gelar bagi orang yang hafal Al-Quran.

Aksi anti PKI dan Komunisme memang tidak bisa dilepaskan dari umat Islam yang hingga  kini masih menjadi Agama mayoritas di negeri ini.

Sejarah mencatat andil umat Islam dalam aksi penumpasan PKI dan Komunisme cukup besar. Alm mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur dalam sebuah film dokumenter berjudul ‘Mass Grave’ juga membenarkan hal itu. Menurut Gus Dur, umat Islam mempunyai tanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa yang diakibatkan oleh gerakan-gerakan Islam dalam upaya penumpasan Komunis atau PKI.

Gus Dur juga menyoroti sebuah fenomena di era tersebut terkait  banyaknya masyarakat Indonesia (yang tadinya beragama Islam) yang memeluk agama di luar Islam.

“Dalam penelitian, saya menjadi mengerti mengapa mereka melakukannya (berpindah agama) karena keluarganya dibunuh atau menjadi korban dalam gerakan Islam melawan Komunis,” ungkapnya.

Satu hal yang patut digaris bawahi dari komentar Gus Dur di dalam film dokumenter tersebut adalah terkait pelarangan ideologi Komunisme di masyarakat yang menurutnya adalah usaha yang sia-sia.

“Kita seharusnya merubahnya dengan cara membedakan antara ideologi dan institusi. Jadi kalau mereka melarang PKI hanya itulah yang dapat mereka lakukan dan itu terserah mereka. Tapi melarang ideologi atau atau pemikiran adalah sia-sia,”tegasnya.

Dilarang Belok “Kiri”
Komentar gratis klik di sini

Tinggalkan pesan

Pilihan

Ke atas