15 pelajar dari Desa Atuler, Provinsi Sichuan, Tiongkok, mendaki bukit setinggi 800 meter untuk pulang. (Feature China / Barcroft Images)
Luar Negeri

Perjuangan Pelajar di Tiongkok, Mendaki Bukit Setinggi 800 Meter untuk Pulang

Pelajar di Desa Atuler, Provinsi Sichuan, harus ‘mendaki’ bukit setinggi 800 meter sambil membawa ransel mereka masing-masing, melewati tangga yang terbuat dari akar tanaman dan batu. Mereka harus ‘berjudi’ dengan nasib, tak ada yang tahu mereka bisa selamat.

(Feature China / Barcroft Images)

CELAHKOTA.COM – Barangkali Anda pernah melihat foto tentang ‘perjuangan’ pelajar Indonesia yang harus menempuh jalan berkilo-kilo menuju sekolahnya. Atau harus menyeberang sungai menggunakan rakit maupun jembatan gantung seadanya. Tapi, siapa yang sangka bahwa di Tiongkok, ada perjalanan yang ekstrem yang harus ditempuh oleh pelajar sekolah dasar setiap kali harus datang ke sekolah.

Ada sekitar 17 tangga yang terbuat dari akar, selebihnya hanya batuan. (Feature China / Barcroft Images)

Ada sekitar 17 tangga yang terbuat dari akar, selebihnya hanya batuan. (Feature China / Barcroft Images)

Pelajar di Desa Atuler, Provinsi Sichuan, harus ‘mendaki’ bukit setinggi 800 meter sambil membawa ransel mereka masing-masing, melewati tangga yang terbuat dari akar tanaman dan batu. Mereka harus ‘berjudi’ dengan nasib, tak ada yang tahu mereka bisa selamat.

Sebenarnya ada sarana transportasi kabel (lift) bertenaga listrik untuk menuju desa mereka. Tapi anak-anak tidak memiliki cukup uang  membayar. (Feature China / Barcroft Images)

Sebenarnya ada sarana transportasi kabel (lift) bertenaga listrik untuk menuju desa mereka. Tapi anak-anak tidak memiliki cukup uang membayar. (Feature China / Barcroft Images)

Hal itu diketahui dari sejumlah gambar yang diunggah lewat salah satu media sosial Tiongkok yang kemudian diterbitkan oleh Koran Beijing. Foto-foto ‘jalur maut’ para pelajar sekolah dasar itu dijepret oleh Chen Jie, fotografer pemenang penghargaan foto dari Beijing News yang juga pernah mengabadikan momen ledakan mematikan di Tianjin.

Berdasarkan cerita rakyat, penghuni Desa Atuler para leluhur memilih tempat yang terisolasi di atas gunung untuk menghindari peperangan. (Feature China / Barcroft Images)

Berdasarkan cerita rakyat, penghuni Desa Atuler para leluhur memilih tempat yang terisolasi di atas gunung untuk menghindari peperangan. (Feature China / Barcroft Images)

Chen menggunakan akun pada aplikasi WeChat untuk menjelaskan momen-momen dirinya pertama kali melihat 15 pelajar yang berusia antara enam sampai 15 tahun mendaki jalur maut.

“Tak bisa dipungkiri lagi, saya terkejut dengan apa yang saya lihat di depan mata,” tulisnya yang kemudian menuliskan harapannya semoga saja apa yang ia potret bisa mengubah keadaan Desa Atuler.

Pelajar dari Desa Atuler, Sichuan, Tiongkok melalui jalur tangga akar. (Feature China / Barcroft Images)

Pelajar dari Desa Atuler, Sichuan, Tiongkok melalui jalur tangga akar. (Feature China / Barcroft Images)

Dikutip Guardian, pemimpin Desa Atuler, Api Jiji menjelaskan keadaan yang demikian harus ditempuh oleh warganya yang hendak menuntut ilmu lantaran tidak lagi cukup ruang di atas gunung untuk membangun sekolah.

Ia mengatakan, sampai sejauh ini, sudah ada “tujuh atau delapan” warganya yang tewas setelah kehilangan kendali saat mendaki, dan beberapa lainnya menderita luka-luka. Kendati demikian, saat ini anak-anak di Desa Atuler hanya kembali ke desanya untuk bertemu orangtua mereka.

15 pelajar dari Desa Atuler, Provinsi Sichuan, Tiongkok, mendaki bukit setinggi 800 meter untuk pulang. (Feature China / Barcroft Images)

15 pelajar dari Desa Atuler, Provinsi Sichuan, Tiongkok, mendaki bukit setinggi 800 meter untuk pulang. (Feature China / Barcroft Images)

Sekretaris Partai Komunis Tiongkok untuk kawasan Sichuan menjanjikan akan membangun tangga besi yang akan menghubungkan kawasan terpencil dengan “dunia luar” sebagai solusi sementara.

Perjuangan Pelajar di Tiongkok, Mendaki Bukit Setinggi 800 Meter untuk Pulang
Komentar gratis klik di sini

Tinggalkan pesan

Ke atas