Ilustrasi kekerasan anak. (Pixabay)
Hukum

Menakar Jera Pelaku Kejahatan Seksual Anak

Pemerintah mencari hukuman yang tepat untuk pelaku kekerasan terhadap anak. Segala jenis hukuman dikaji, mulai dari pemasangan cip untuk memantau pergerakan para pesakitan, sampai wacana hukuman kebiri yang dinilai dapat membuat jera para ‘predator’.

CELAHKOTA.COM – Indonesia bereaksi ngalor-ngidul menghadapi pemberitaan pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Yuyun. Gaung kesadisan pembunuhan siswi SMP di Bengkulu itu menjadi topik pembicaraan orang-orang di kantoran, sekolahan, dan pinggir jalan.

Kekerasan terhadap anak dan wanita menjadi sorotan. Presiden Joko Widodo dan menteri-menterinya menggelar rapat terbatas semata-mata untuk merespon gejala-gejala yang mulai timbul di masyarakat.

Pemerintah akhirnya sepakat untuk memfinalisasi draf Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) soal perlindungan kekerasan seksual anak yang juga memuat soal hukuman kebiri.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mengatakan, Perppu Perlindungan Kekerasan Seksual Anak menjadi pilihan pemerintah karena merevisi UU Perlindungan Anak membutuhkan waktu yang lama dalam pembahasannya.

“Keputusannya sudah diputuskan di ratas (rapat terbatas) satu Perppu dan akan dikirimkan ke DPR dan dibahas di masa sidang mendatang. Sebelum masa sidang ini (17 Mei), perppu keluar,” kata Yasonna usai rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (11/5).

Mendikbud Minta Sekolah Bentuk Unit Pencegahan Kekerasan

Yasonna menjelaskan, pilihan gelang berchip juga dapat diberikan sebagai hukuman tambahan. Gelang itu bisa diberikan saat pelaku berada dalam tahanan atau saat bebas bersyarat untuk memantau pergerakan pelaku.

Chip itu nantinya dikeluarkan pemerintah. Namun, dia belum mengetahui besar anggaran yang diperlukan dalam pengadaan gelang berchip ini.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyambut baik wacana gelang ber-chip tersebut. Menurutnya, Polri siap mengikuti arahan pemerintah terkait penerbitan perppu tentang perlindungan kekerasan seksual anak.

“Di beberapa negara, pelaku yang sudah mengakhiri masa hukuman tapi sekiranya bisa membahayakan anak-anak diberikan gelang kaki chip,” kata Badrodin.

Ia menjelaskan, pemasangan chip dilakukan agar pergerakan mereka terawasi sehingga jika ada tanda akan melakukan kejahatan lagi polisi bisa cepat bergerak.

“Nanti bisa dimonitor dia pergi ke mana. Kalau dia berbuat yang membahayakan anak-anak, anggota (Polri) segera bergerak,” katanya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, hukuman maksimal pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah 15 tahun penjara. Sementara itu, pelaku di bawah umur dihukum tujuh tahun penjara.

Menakar Jera Pelaku Kejahatan Seksual Anak
Komentar gratis klik di sini

Tinggalkan pesan

Pilihan

Ke atas