Para kerabat menunggu di luar ruangan
Foto

Sunat, Prosesi Menuju Dewasa

CELAHKOTA.COM – Pagi baru saja tiba, puluhan bocah dengan ekspresi tegang duduk berjejer di teras sebuah klinik. Beberapa orang tua dan kerabat yang turut mengantar sesekali menenangkan si Bocah agar tabah menjalani ritual menuju dewasa.

Satu per satu bocah laki-laki masuk, sementara orang tua dan kerabat menunggu di luar. “Kalau anaknya ditungguin jadi takut nanti,”ungkap seorang penjaga yang mengatur ritme masuknya pasien.

Dua laki-laki dan satu perempuan sudah menunggu di sebuah tempat tidur panjang. Satu laki-laki paruh baya kemudian memberikan pengertian kepada para bocah tentang manfaat dari sunat. Dia lalu menghampiri satu per satu bocah yang akan disunat.

“Berani nggak?!” tanya lelaki itu sambil mencubit tangan tiap-tiap bocah.

Selain bertindak sebagai ‘motivator’ lelaki paruh baya itu juga bertugas menyuntikan obat bius ke pada calon bocah yang akan disunat. Baru setelah proses sunat akan dimulai, orang tua dari para bocah itu diperkenankan masuk.

Proses sunat ini bisa dibilang cukup singkat, kurang lebih hanya sekitar 15 menit. Sesekali terdengar jerit  dari bocah yang sudah terlanjur takut oleh jarum suntik dan peralatan sunat.

Namun secara keseluruhan, proses sunat di tempat ini biasanya berjalan lancar. Si bocah bisa langsung beraktivitas normal dengan mengenakan celana batok yang dihadiahi oleh balai sunat tersebut.

Itulah seklumit peristiwa yang terjadi di sebuah balai pengobatan khusus khitan H. Moh. Thoim Zaruki di jl. Sarikaya Depok, Jawa Barat.

Khitan atau akrab disebut sunat memang kata yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Bagi sebagian anak  laki-laki, khususnya yang beragama muslim, prosesi sunat memang telah menjadi suatu kewajiban.

Di dunia kedokteran, sunat biasa dilakukan oleh dokter bedah, yang dalam prosesnya, selaput kemaluan laki-laki  atau biasa disebut kulup di potong dan dihilangkan. Namun secara tradisi, masyarakat  Indonesia mengenal beragam cara  sunat.

Yang paling lazim dikenal masyarakat Indonesia adalah cara sunat bengkong dengan menggunkan bambu. Namun hal ini perlahan-lahan mulai ditinggalkan karena mempunyai potensi resiko lebih besar terhadap kesehatan.

Saat ini sendiri, masyarakat cenderung memilih cara sunat dengan laser karena alasan keamanan meski dengan biaya yang lebih mahal.

Dari sisi medis, sunat mempunyai beberapa manfaat untuk kesehatan. Dengan dihilangkannya kulup yang merupakan bagian paling lembab dari kelamin pria karena terdapat membran mukosa (selaput lendir), sunat bisa memperkecil risiko infeksi seksual pada pria, tak hanya itu, sunat juga dipercaya membuat seorang pria terhindar dari risiko HIV.

Ada beragam perayaan pascaprosesi sunat dilakukan, salah satunya adalah syukuran. Biasanya orang tua dari ‘pengantin sunat’ – sebutan bagi bocah laki-laki yang baru saja disunat untuk budaya Betawi – mengundang beberapa kerabat untuk menikmati jamuan. Ada juga yang memilih bersedekah kepada orang yang membutuhkan sebagai rasa syukur.

Biasanya sang ‘pengantin sunat’ mendapat amplop berisi uang dari para tamu yang datang. Uang itu kemudian boleh dipergunakan oleh ‘penganten sunat’ untuk membeli barang-barang yang dia inginkan, semisal mainan atau sepeda baru.

Di Indonesia sendiri, sejarah sunat diduga masuk bersamaan dengan penyebaraan Islam di bumi nusantara.

Sementara itu sebuah penelitian mengemukakan temuan bahwa proses khitan atau sunat pertama kali diduga dilakukan di Mesir pada sekitar 2400 SM. Hal tersebut juga nampak pada relief di sebuah pemakaman kuno Saqqara yang menggambarkan adegan medis yang diduga proses sunat.

Di negara-negara barat yang notabennya bukan negara Islam, sunat kini juga mulai banyak diminati. Atas alasan kesehatan, masyarakat barat merelakan bentuk asli kelaminnya untuk disunat – konon katanya masyarakat barat enggan disunat karena merubah keindahan bentuk kelamin asli.

Namu ternyata kebiasaan sunat di masyarakat barat sudah ada sejak akhir 1800-an. Seorang Profesor Hukum Seton Hall UniversitySarah Waldeck juga mengatakan bahwa dahulu selain untuk kesehatan, sunat juga dilakukan untuk menandai kelas sosial.

“Kebutuhan sunat menjadi penanda kelas sosial karena kala itu hanya orang-orang kaya yang mampu sunat di rumah sakit. Ini adalah pilihan yang baik bagi orang tua,” ungkap Waldeck.

Foto dan teks oleh: Rengga Satria

Sunat, Prosesi Menuju Dewasa
Komentar gratis klik di sini

Tinggalkan pesan

Pilihan

Ke atas