Record Store Day 2016 (Rengga Satria/Celahkota)
Musik

Pelaku Musik di Hadapkan Pilihan Sulit: Beradaptasi atau Mati

Record Store Day 2016 (Rengga Satria/Celahkota)

CELAHKOTA.COM – Invasi digital ke  industri musik Indonesia sepertinya mampu memberikan teror yang cukup dahsyat kepada perusahaan-perusahaan rekaman di tanah air. Terhitung ada enam label besar tanah air yang  akhirnya bergandengan tangan untuk meluncurkan layanan streaming musik gratis bernama Nada Kita.

Enam label rekaman tersebut adalah Aquarius Musikindo, Musica Studio”s, MyMusic, Nagaswara, Trinity, dan VMC yang kemudian bekerjasama dengan perusahaan mobile engagement asal Australia, Tuned Global untuk meluncurkan layanan streaming itu.Dalam konferensi persnya beberapa waktu silam, pihak Tuned Global berjanji akan meberikan akses tidak terbatas dan gratis kepada para pecinta musik untuk menikmati karya-karya musisi tanah air.

Ke depannya Tuned Global juga tidak menutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan label-label lainnya.

Tak hanya enam perusahaan rekaman tersebut, ketakutan serupa sepertinya juga  dirasakan oleh musisi legendaris Iwan Fals. Lewat situs resminya, iwanfals.co.id, manajemen Iwan Fals, Tiga Rambu memperkenalkan aplikasi bebas unduh yang mereka beri nama Iwan Fals App.

Berdalih untuk memperlancar dan mempermudah komunikasi dengan para penggemarnya, Iwan dan manajemennya berharap kehadiran aplikasi tersebut mampu membantu penyebaran karya-karyanya.

Iwan Fals App ini juga dilengkapi beberapa fitur menarik seperti jadwal konser, merchandise resmi, dan forum diskusi.

Beradaptasi atau Mati

Berkembangnya dunia digital dan internet saat ini memang menuntut semua pihak, khususnya di industri musik untuk mampu beradaptasi, tak terkecuali  perusahaan rekaman dan musisi dengan nama besar. Tingginya pengguna internet dan ponsel pintar saat ini cenderung membuat masyarakat kita mencari cara yang paling mudah untuk bisa mengkonsumsi musik secara gratis.

Korbannya adalah Aquarius di Jalan Mahakam, Jakarta Selatan yang tamat  riwayatnya pada tahun 2013 silam. Pihak Aquarius mengaku terpaksa harus menutup tokonya lantaran terus merugi puluhan juta setiap bulannya.

Nasib serupa juga menimpa kelompok usaha Disc Tarra yang terpaksa harus menutup 40 gerainya di beberapa kota karena menurunnya penjualan album rilisan fisik.

Segala upaya telah ditempuh untuk memasyarakatkan kembali tradisi membeli rilisan fisik album musik. Beberapa band dan musisi tanah air bahkan tak segan merogoh kocek dalam-dalam demi merilis album fisik dengan kemasan esklusif meski hal itu dinilai cukup riskan.

Beberapa acara berkonsep bazar juga digelar dengan menggandeng label-label musik. Sebut saja perhelatan Record Store Day (RSD) yang diselenggarakan pada 16-17 April 2016 lalu di Jakarta  dan melibatkan puluhan label dan band/musisi terkemuka. Meski terbilang sukses, namun nampaknya langkah-langkah tersebut belum mampu menandingi gencarnya invasi digital dan internet di industri musik tanah air.

Dominasi digital dan internet di industri musik nampaknya memang tidak bisa dibendung lagi. Rilisan fisik album musik akan menjadi barang langka di  kemudian hari. Seperti pengakuan beberapa pelaku industri musik tanah air, “Segala cara  telah ditempuh, namun kami memang dihadapi oleh  pilihan sulit: beradaptasi atau mati.”

 

 

Pelaku Musik di Hadapkan Pilihan Sulit: Beradaptasi atau Mati
Komentar gratis klik di sini

Tinggalkan pesan

Pilihan

Ke atas