molotov
Berita

Bom Gereja, Ujian Bagi Kebhinekaan Kita

Ilustrasi (Istimewa)

(Sebelumnya) Apakah Ahok Mencederai Kebhinekaan?

Minggu 13 November pagi, seorang pria melemparkan bom molotov ke parkiran Gereja Oikumene di Jl Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Lo Janan Ilir, Samarinda, Kaltim. Saat itu para jemaat Gereja baru saja selesai melaksanakan ibadah dan keluar melalui pintu depan, menuju ke parkiran.

Aksi pengeboman tersebut menewaskan satu orang balita bernama Intan Olovia Banjarnahor, 2,5 tahun. Intan menjadi korban bersama 3 orang balita lainnya.

Setelah melakukan penyidikan selama sepekan, Polisi akhirnya berhasil menetapkan tujuh orang sebagai tersangka kasus tersebut.

“Ketujuh orang ini terlibat mulai dari perencanaan, kemudian pembuatan bom, membeli bahan-bahan, melaksanakan, mengeksekusi, dan seterusnya. Sebelumnya dilakukan pelatihan-pelatihan bagaimana untuk merakit itu,” kata Kepala Polda Kaltim Irjen Pol Safaruddin.

Sementara Juhanda, eksekutor aksi terror tersebut diketahui sebagai ‘orang lama’. Juhanda alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia, 32 tahun adalah seorang residivis yang pernah dihukum selama 3,5 tahun karena aksi teror bom Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Tangerang pada 2011 silam.

Meski motif aksi terror bom Gereja di Samarinda tersebut masih diselidiki, namun opini masyarakat terlanjur tergiring pada konflik agama. Apalagi diketahui sejak setahun terakhir Juhanda tinggal di rumah seorang Ustad yang terletak di belakang Masjid dan terletak tidak jauh dari Gereja.

Selanjutnya:

Anggun ‘Menjembatani’ Ahok dan Aksi Teror Bom Gereja

Bom Gereja, Ujian Bagi Kebhinekaan Kita
Komentar gratis klik di sini

Tinggalkan pesan

Pilihan

Ke atas